Showing posts with label Iktibar. Show all posts
Showing posts with label Iktibar. Show all posts

Tuesday, 25 November 2014

Mandikan aku BONDA

Assalamualaikum

Saya nak share dengan anda semua cerita nie. Ada pengajaran kepada kita semua di sebalik cerita nie..saya sendiri tergolong antara ibu bapa yang sibuk bekerja dan balik lewat malam tapi bertuahnya semua saya uruskan sendiri tiada orang gaji atau tante. Sememangnya tanggungjawab membesarkan anak² terletak di atas bahu ibu bapa itu sendiri sebenarnya bukan kepada orang lain. Jikalaupun kamu mempunyai orang gaji sebolehnya luangkanlah masa dengan anak² bermain bersamanya, bercakap dengannya supaya mereka rapat dengan kita sebagai ibu bapa dan bukan dengan orang lain.

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya. Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademik mau pun profesion yang akan diceburinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universiti menghantar mahasiswa untuk studi International Law di Universiteit Utrecht , Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menyelesaikan pendidikan kedoktoran. 

Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesion. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani dilantik sebagai staf diplomat, bertepatan dengan selesainya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. 
Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, hampir setiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.    Sebenarnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan pantas Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengandaikan segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Layanan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter "mahal". 
Rani cuma mengawal jadual Alif melalui telefon. Alif membesar menjadi anak yang kelihatan lincah, cerdas dan mudah mengerti. Nenek-neneknya selalu menonjolkan kebanggaan mereka kepada cucu yang amat dikasihi itu, tentang kehebatan ibu-bapanya. Tentang jawatan dan nama besar, tentang kekerapan menaiki pesawat, dan wang yang banyak. ''Contohlah ayah-bonda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibu Rani, berpesan di akhir cerita sebelum tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Sungguh anak kecil ini "memahami" orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karaktor ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orang tuanya kerap pulang lewat, ia jarang sekali merungut. Bahkan, kata Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.